Menkominfo Dorong Akademisi Kaji Dampak Sosial Teknologi Digital

https://www.kominfo.go.id/content/detail/16622/menkominfo-dorong-akademisi-kaji-dampak-sosial-teknologi-digital/0/berita_satker

Yogyakarta, Kominfo - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mendorong akademisi untuk melakuan kajian atau studi mengenai dampak sosial teknologi. Menurutnya, kehadiran teknologi memicu munculnya pola-pola kompleksitas kehidupan sosial dan politik masyarakat, sehingga membutuhkan pendekatan baru dalam mengelola kompleksitas tersebut.

“Studi-studi seperti ini sangat penting. Ketika bicara teknologi kita juga harus tahu bagaimana dampak sosialnya,” ucapnya saat mengunjungi fasilitas riset Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (23/02/2019).

CfDS merupakan pusat studi yang didirikan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM untuk mengkaji perkembangan dan dinamika kehidupan sosial-politik kontemporer di dunia, yang ditandai dengan pengaruh dari tekonologi informasi.  Mulai dari kota pintar, pembangunan urban dan proses digitalisasi, serta beragam solusi-solusi pada permasalahan dan isu sosial.

"Kajian-kajian ini, dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah maupun aktor-aktor lain di sektor digital dalam menghasilkan kebijakan yang berdampak positif bagi masyarakat," ungkap Rudiantara.


Kikis Kesenjangan Akses

Sebelumnya, dalam acara ISIPOL Talk (I-Talk) bertajuk "The Age of Digital Literacy: Opportunities and Challenges" di FISIP Universitas Gadjah Mada, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (23/2/2019), Menteri Kominfo memaparkan pembangunan infrastruktur telekomunikasi melalui Proyek Palapa Ring yang didukung dengan satelit. Upaya itu menurutnya akan mengatasi ketimpangan akses jaringan internet antara kota dan daerah di Indonesia. Bahkan bisa melayani akses internet cepat sampai di Papua.

"Konstruksinya sudah selesai, dan pertengahan tahun nanti semua akan diintegrasikan. Dengan satelit ini saudara-saudara kita di Papua bisa menikmati internet yang setara dengan kita di sini," tuturnya. 

Menurut Rudiantara, pembangunan jaringan kabel serat optik Palapa Ring menjangkau selluruh Indonesia. "Palapa Ring terdiri dari tujuh lingkar kecil serat optik untuk wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Maluku serta satu backhaul untuk menghubungkan semuanya," jelasnya.

Menteri Kominfo menyatakan saat ini masih terjadi ketimpangan akses internet antara kota besar dengan kawasan timur Indonesia. Pengguna internet di kota-kota besar di Pulau Jawa bisa memperoleh throughput rata-rata sebesar 7 Mbps jaringan 4G, sedangkan di Maluku dan Papua hanya 300 Kbps.

"Mereka hanya mendapatkan sekitar 1/23 persen dari akses internet yang kita dapatkan di Jawa, tapi mereka  harus membayar harga yang lebih mahal," ucap Rudiantara.

Oleh karena itu, menurut Rudiantara, Palapa Ring sebagai jaringan tulang punggung broadband backbone menjadi salah satu kebijakan prioritas Pemerintah.

Digitalisasi

Dalam acara itu, Menteri Kominfo juga mengupas berbagai tantangan dan peluang dari era digital. Di tengah peningkatan penetrasi internet di Indonesia, Menteri Kominfo menyoroti adanya perubahan gaya hidup masyarakat yang mulai memanfaatkan teknologi digital dalam berbagai aspek, mulai dari pendidikan, kesehatan, transportasi, kesehatan, hingga keuangan.

Menghadapi era ini, Menteri Kominfo menegaskan perlunya peningkatan literasi digital di tingkat umum, serta mengembangkan sumber daya manusia yang terampil dalam penggunaan teknologi untuk memenuhi kebutuhan pembangunan hingga beberapa tahun ke depan.

Sumber

(sumber:https://www.kominfo.go.id/content/detail/16622/menkominfo-dorong-akademisi-kaji-dampak-sosial-teknologi-digital/0/berita_satker)

Komentar

Kode Acak

*Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka