Bersahabatlah dengan Musibah

Belum lagi reda musibah yang melanda saudara – saudara kita di pulau Lombok dan sekitarnya, kini ada lagi musibah yang menimpa saudara – saudara kita Palu, Donggala dan Sigli di Provinsi Sulawasi Tengah. Gempa berkekuatan 7,4 skala richer berpuat ditengah kota yang di ikuti tsunami setinggi kurang lebih 2 meter  telah menghancurkan kota Palu, Donggala dan Sigli, korban pun berjatuhan dan kehilangan harta sudah tak terhitung, hingga sekarang tercatat sudah ada lebih dari 2.000 korban jiwa dan ribuan terluka, sedangkan puluhan ribu harus mengungsi di tempat – tempat yang dirasakan lebih aman, baik di lapangan atau dibandara, karena rumah, kantor, hotel dan bahkan tempat ibadah sudah hancur dan sebagaian warga sampai harus keluar kota dan pulau untuk mendapatkan keselamatan.

Indonesia memang rawan terjadi gempa karena terletak di pertemuan lempeng Australia dan Eurasia dengan lempeng Australia menyusup ke dalam zona Eurasia sehingga membentuk zona subduksi sepanjang Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Nusa Tenggara, Timur dan melingkar di Banda. Sedangkan Irian Jaya adalah tempat bertemunya beberapa lempeng yaitu Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Akibat dari terbentuknya zona subduksi inilah maka banyak sekali ditemukan gunung berapi di Indonesia. Makanya orang banyak menyebut daerah kita sebagai Ring of Fire (cincin api). Jadi, jangan kaget kalau di negara kita sering dilanda gempa bumi, gunung meletus  dan tsunami karena daerah kita dibatasi oleh pertemuan lempeng-lempeng besar di dunia. (http://intisari.grid.id)

Beberapa gunung berapi yang pernah meletus di Indonesia antara lain: (1). Gunung Merapi (2013/2018) di Yogyakata, (2). Gunung Sinabung (2013/14/16/17/18) di Sumatera Utara, (3). Gunung Gamalama  (2016) di Ternate, Maluku Utara, (4). Gunung Rinjani (2015) di Pulau Lombok, (5). Gunung Agung (2017) di Pulau Bali, dan lain lain.

Sedangkan gempa bumi yang pernah terjadi di Indonesia antara lain: (1). Gempa Besar Aceh 2004, (2). Gempa Nias 2005, (3). Gempa Jogyakarta 2006, (4). Gempa Lepas Pantai Sumetra Barat 2009, (5). Gempa Besar Lombok  2018, (6). Gempa Besar di Palu, Donggala dan Sigli 2018, dan lain – lain. Kesemuannya itu telah menimbulkan puluhan ribu korban jiwa dan harta benda yang tak terhitung.

Musibah, betapa pun kecilnya, selalu akan meninggalkan duka. Lebih-lebih bila musibah itu skalanya besar, duka itu bisa menjelma menjadi nestapa yang berkepanjangan. Apa sebenarnya makna dari sebuah musibah? Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari peristiwa yang telah merenggut ribu nyawa manusia dan harta yang demikian besar itu?, ketahuilah bahwa semua peristiwa yang terjadi di muka bumi ini, termasuk musibah yang melanda tersebut bukanlah murni peristiwa alam semata. Ia merupakan ketentuan (takdir) dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:

“Tiada satu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22)

“Tidak ada satu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

Al-Imam al-Bukhari dan Al-Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih keduanya dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

 “Para syuhada itu ada lima golongan: yang terkena tha’un (penyakit karena bakteri pada tikus), mabthun, tenggelam, terkena reruntuhan, dan yang syahid di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.”

Karena itu, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan (akibat gempa) menjadi syahid di jalan Allah subhanahu wa Ta’ala baik dewasa atau anak kecil, laki-laki ataupun wanita. (asysyariah.com)

 Dengan kenyataaan – kenyataan tersebut lebih tepatnya kita harus bisa berdamai dengan musibah.

Semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala melindungi negeri yang kita cintai ini, membimbing rakyat dan pemimpinnya kepada jalan yang lurus. Amin..


Firdaus Ahmadi

Radaktur Pelaksana Jurnal Sekolah Tinggi Teknologi dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Banten | sabhawana.info | stkipbanten.ac.id dan sekolahtinggiteknologibanten.ac.id.


Komentar

Kode Acak

*Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka