BENARKAH JENGGOT, JUBAH, CELANA CINGKRANG, CADAR ADALAH CIRI-CIRI TERORIS?

http://www.manhajul-anbiya.net/benarkah-jenggot-jubah-cadar-adalah-ciri-ciri-teroris/

Setelah memahami permasalahan ini, maka sangat tidak bijaksana apabila menyamaratakan setiap orang yang berjenggotberjubahbercadarberkopiah putih, atau berserban adalah berpemahaman terorisme atau anggota jaringan teroris. Seorang muslim hendaknya arif menyikapi keadaan.

Menyikapi keadaan ini, hendaknya seorang muslim tidak tergesa-gesa memberi penilaian negatif terhadap orang-orang berjubahbercadar, celana cingkrangberjenggot, dan yang semakna dengan itu. Apalagi jika langsung menyamakan dan mengelompokkan setiap orang berjubahberjenggot, atau wanita bercadar adalah bagian dari kelompok teroris.

Hukum Memelihara Jenggot

“Dari Abi Imamah : Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : Potonglah kumis kamu dan peliharalah jenggot kamu, tinggalkan (jangan meniru) Ahl al-Kitab”. Hadits sahih, HR Ahmad dan at Tabrani.

“Dari Aisyah berkata : Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : Sepuluh perkara dari fitrah (dari sunnah nabi-nabi) diantaranya ialah mencukur kumis dan memelihara jenggot”. HR Ahmad, Muslim, Abu Daud, at Tirmidzi, an Nasaii dan Ibn Majah.

Hal - hal semacam itu bisa menimbulkan antipati terhadap ajaran Islam dan akan dimanfaatkan oleh pihak ketiga untuk mengadu domba sesama kaum muslimin.

Bagaimana pun juga, atribut-atribut di atas adalah bagian dari ketentuan Syariat Islam. Tak bisa dimungkiri bahwa semua itu ada tuntunannya dalam Islam.

Faktor pendorong orang-orang untuk berpenampilan agamis karena hal itu adalah ajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam, terlepas dari perbedaan pendapat ulama dalam hal cadar, apakah wajib atau sunnah.

    “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, putri-putrimu, dan wanitanya orang-orang beriman agar mereka mengulurkan jalabib (jilbab-jilbab) mereka di atas tubuh mereka. Hal itu lebih pantas untuk mereka dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab: 59)

seorang tokoh ulama mazhab Syafi’i yang terkemuka, Jalaluddin al-Muhalli rahimahullah[4] mengatakan, “Jalabib adalah bentuk jamak dari jilbab, yaitu mala’ah (pakaian panjang) yang menutupi seluruh tubuh wanita.

Ayat di atas memerintahkan agar mereka mengulurkan sebagian jilbab tersebut menutupi wajah, saat mereka keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan mereka (tidak ada yang terlihat dari mereka) kecuali satu mata.

Ibnu Abi Hatim rahimahullah mengeluarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma terkait dengan ayat di atas. Kata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para wanita mukminah apabila keluar rumah untuk suatu kebutuhan, hendaknya menutupkan jilbab dari atas kepala mereka (hingga menutupi seluruh tubuh mereka –pen.) dan mereka menampakkan (hanya) satu mata(untuk kebutuhan melihat jalan –pent.).” (al-Iklil fi Istimbath at-Tanzil, hlm. 214, karya as-Suyuthi)


Hukum Memakai Celana Cingkrang

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ

“Sarung yang berada di bawah kedua mata kaki, ada di dalam neraka (kaki tersebut).”

Sarung, celana, jubah, atau yang semisal, biasanya dikenakan oleh kaum musbil hingga menutupi mata kaki. Kebiasaan yang perlu dikritisi secara tinjauan syariat Islam. Mengapa hal “remeh” semacam ini dibahas? Itulah kesempurnaan ajaran Islam. Cara berpakaian pun ada aturannya.

Takhrij Hadits

Hadits dengan lafadz di atas diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5450), an-Nasa’i (no. 5330), dan Ahmad (2/498), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Seluruhnya dari riwayat Syu’bah, dari Sa’id al-Maqburi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Sebenarnya, bagaimanakah hukum isbal itu? Hukuman apa yang diancamkan atas kaum musbil? Apakah hal ini termasuk masalah furu’—menurut kalangan tertentu—, sehingga tidak layak untuk diperdebatkan? Benarkah hal ini hanya masalah adat dan budaya orang Arab yang tidak berlaku di negeri kita, Indonesia? Adakah perbedaan antara musbil yang sombong dan musbil yang tidak sombong? Simaklah penjelasan ringkas berikut ini, barakallahu fikum.

Hukum Isbal

Isbal hukumnya haram, bahkan dapat dikategorikan sebagai kabair (dosa besar). Hukum ini berlandaskan pada keterangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim (no. 106) dan lainnya, “Ada tiga golongan manusia pada hari kiamat nanti. Allah Subhanahu wata’ala tidak berbicara kepada mereka, tidak memandang ke arah mereka, juga tidak menyucikan mereka. Untuk mereka azab yang pedih.” Kata-kata ini diulang sebanyak tiga kali oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sampai-sampai para sahabat bertanya, “Siapakah ketiga golongan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,

الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

“Orang musbil, orang yang selalu mengungkit-ungkit kebaikan, dan orang yang menjual barang dagangan dengan sumpah palsu.” (Fatwa al-Utsaimin, Nur ‘alad Darb)

(sumber:http://www.manhajul-anbiya.net/benarkah-jenggot-jubah-cadar-adalah-ciri-ciri-teroris/? dan Majalah asy-Syari’ah edisi MENGAPA TERORIS TIDAK PERNAH HABIS halaman 20 – 21)

Komentar

Kode Acak

*Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka