Buwas

Komjen Budi Waseso (Buwas) dahulu dicela sekarang dipuji 

Teringat sikap Komisaris Jendral (Komjen) Budi Waseso (Buwas) sewaktu menjabat Kabareskrim (Kepala Bagian Reserse dan Kriminal)  Mabes Polri yang menetapkan Bambang Widjajonto dan Abrahaman Samad (pemimpin KPK – waktu itu) sebagai tersangka kasus penipuan dan bersaksi palsu, dan ditindaklanjuti dengan menangkap penyidik KPK Novel Baswedan namun dengan kasus yang berbeda yaitu:penyiksaan yang menyebabkan kematian tersangka sewaktu bertugas di Bengkulu.

Itu adalah beberapa contoh kasus yang dilakukan para petinggi KPK yang direspons dengan cepat oleh Komjen Buwas, dan waktu itu betapa para aktivis anti korupsi yang terdiri dari LSM, dosen, mahasiswa dan masyarakat umum  menyesali kejadian tersebut. Bahkan Presiden Jokowipun juga menyesalinya. Sementara Komjen Buwas hanya berkata: semua berdasar laporan dari masyarakat. Dengan keadaan - keadaan itulah nama Buwas (perumpamaan dengan - buas) langsung melekat padanya. Sikapnya itu kemungkinan dilatarbelangi kasus cicak versus buaya jilid III, yaitu ditetapkannya calon Kapolri (waktu itu) Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus rekening gendut yang dimilikinnya, karena waktu itu selain sebagai atasan Komjen Buwas, Komjen Budi Gunawan juga sekaligus seorang teman.

Sama keadaannya dengan keberanian buwas membongkar kasus berat seperti sangkaan korupsi di Pelindo II dan CSR Yayasan Pertamina yang membuat namannya semakin melambung, media seolah menjadikannya seorang martir atas ketidakmampuan pemerintah dalam mengatasi keruwetan perekenomian nasional yang waktu itu diancam krisis, tapi mungkin juga ada semacam pengalih perhatian pemerintah dalam menghadapi krisis ekonomi yang ada didepan mata. Adalah RJ Lino (Dirut Pelindo II) penyebab Komjen Buwas diganti. Tanpa takut didepan wartawan ia menelepon pejabat tinggi negara ini dan mengancam untuk mundur jika polisi tidak menghentikan penggeledahan kantornya, dan direspons cukup baik oleh pemerintah, terbukti dengan tidak tanggung – tanggung  Kabareskrim Komjen Buwas yang memimpin langsung penggeledahan Pelindo II di mutasi menjadi Kepala BNN (Badan Narkoba Nasional), bertukar tempat dengan Komjen Anang Iskandar.

 Alasan yang diungkapkan seperti yang dikatakan oleh Wapres Jusuf Kala dan MenkoPolhukam Luhut Panjaitan (waktu itu) adalah: jangan ribut dalam menyelesaikan kasus yang terjadi karena bisa mengakibatkan perekonomian nasional terganggu. Karena ada semacam gelagat dari pemerintah dalam memaksimalkan penyerapan anggaran baik pemerintah pusat/daerah untuk pembangunan dengan mengeluarkan kebijakan Perpres yang terkesan bisa melindungi pejabat yang menjalankannya dari kasus korupsi, karena kata Wapres Jusuf Kalla: ”kebijakan yang tidak bisa dipidanakan”.   

Sementara anak buah Komjen Buwas, Brigjend Viktor Simanjuntak yang juga cukup keras dalam menyingkapi kasus Pelindo II di televisi berita mengatakan,: “kasus - kasus yang berat yang mengindikasikan korupsi orang – orang penting pasti akan ribut karena mereka akan mempertahankan existensinnya, lah wong kalau ada maling ayam tertangkap pasti orang sekampung akan ribut, apalagi ini masalah nasional”. Akhirnya dia mengikuti nasib atasannya (Komjen Buwas) dilengserkan dari posisinya.

Masalah Komjen Buwas bukan saja masalah mutasi biasa, lebih jauh, didalamnya ada masalah politik, hukum dan ekonomi, jangan lupa masalah dia dengan KPK dan penyidiknya sewaktu dulu diangkat sebagai Kabareskrim, sampai membuat Presiden Jokowi meradang, dan banyak pihak yang menyesalinya. Dan dengan kasus Pelindo II dan CSR Pertamina, terutama Kasus Pelindo II yang  lebih  kental nuansa politisnya yang mungkin menjadi salah satu alasan yang membuatnya diganti, karena orang – orang kuat dan penting, sudah habis kesabarannya dan lagi dia tidak punya kekuatan politik yang membackupnya, tidak seperti temannya Komjen Budi Gunawan, satu – satunya pejabat  yang lolos dari perangkap KPK.

 

Musuh Lama

Sebenarnya banyak kasus besar yang dikerjakan dengan baik oleh Bareskrim sewaktu dibawah pimpinan Komjen Buwas seperti penangkapan gembong dan kurir Narkoba, pemeriksaan Lapas Narkoba di Salemba dan korupsi didaerah (korupsi Gubernur Bengkulu, UPS SMA di Pemda Jakarta, dll). Lalu setelah menjadi Kepala BNN, kita sudah melihat tegasnya ia terhadap gembong – gembong narkoba. Kini setelah menjadi Kepala BULOG (Badan Urusan Logistik) ia berhadapan lagi dengan musuh yang dulu menyikirkannya di kasus Pelindo II, kini dengan kasus impor beras yang ditengerai melibatkan lagi orang – orang kuat dan penting, apakah kali ini dia bisa bertahan...?

Firdaus Ahmadi

Radaktur Pelaksana Jurnal Sekolah Tinggi Teknologi dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Banten | sabhawana.info | stkipbanten.ac.id dan sekolahtinggiteknologibanten.ac.id.


Komentar

Kode Acak

*Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka