Pendidikan di Zaman Serba Instant

https://pixabay.com/id/sekolah-bangunan-pendidikan-295210/

Seperti ada perubahan gaya hidup masyarakat dizaman serba instant ini, bukan lagi makanan, minuman dan keperluan diri lainnya yang serba instant bahkan sekarang di bidang pendidikan ikut - ikut..  Dahulu masyarakat sangat menghormati anak – anaknya yang kuliah dengan susah payah, jauh dari keluarga dan dengan waktu yang lama, sekarang masyarakat lebih bangga dengan keluarganya yang bisa menyelesaikan pendidikannya dengan cepat dengan alasan lebih ‘pinter’. 

 

Berkaca dari kasus plagiarisme desertasi yang baru – baru ini terjadi di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang kalau kita bersandar dengan peraturan akademik, untuk tugas akhir (skripsi, thesis, desertasi) pihak akademik (kampus) sudah menyediakan dosen pembimbing yang bahkan bisa 2 sampai 3 orang dosen pembimbing akademik permahasiswa, kemudian dosen – dosen tersebut akan mempelajari proposal – proposal tugas akhir yang diberikan mahasiswa dan dengan pengalaman dan jam terbangnya dosen – dosen tersebut akan memberitahukan ke mahasiswa proposal ini di terima atau tidak – dengan alasan tidak layak harus diperbaiki atau proposal tugas akhir ini sudah pernah ada berdasarkan data dari sistem akademik dan juga pengalaman dari dosen – dosen yang bersangkutan. Kaidah – kaidah akademik seperti ini bisa meminimalkan permasalahan plagiarisme tugas akhir. Tinggal mahasiswa dengan kerja keras dan kreatifitasnya bisa menyelesaikan tugas akhirnya. Dan mudah – mudahan kita masih ingat tentang tragedi pendidikan di tahun 2015 tepatnya pada September 2015, yang membuat kita semua terkejut dengan berita adanya wisuda ilegal yang dilakukan dan dikoordinir oleh sebuah Yayasan pendidikan di Pondok Cabe, Jakarta, ini erat kaitannya dengan keinginan untuk ‘kuliah cepat dan mudah’, jadi satu paket permasalahan. Sebelumnya MenRisetDikti Prof. M. Natsir sudah melakukan sidak (inspeksi mendadak) ke kampus - kampus yang diduga bermasalah seperti di Jakarta dan sebuah kampus swasta di Bekasi.

 

 

 

Seperti perumpamaan, ada yang jual ada yang beli, keinginan sebagaian masyarakat untuk mendapat gelar akademik baik untuk kepentingkan pribadi atau instansi secara instant disambut hangat oleh beberapa orang yang tidak bertanggung jawab.

Pemerintah dalam hal ini Kemenristekdikti  (Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi)  bukan tidak melakukan apa – apa dalam menghadapi situasi ini, seperti menutup PTS – PTS (Perguruan Tinggi Swasta) yang terbukti bermasalah dan program ‘penggabungan’ 1.000 PTS yang akan dimulai tahun 2019. Kemenristekdikti akan menutup PTS yang tidak sesuai standar minimal layanan akademik, namun masih memberi kesempatan PTS untuk merger atau bergabung dengan PTS lain supaya selamat dari pencabutan izin. Kemenristekdikti juga akan mengurangi jumlah PTS yang ada, kebijakan ini berdasarkan Permenristekdikti 100/2016 tentang Pendirian, Perubahan, Pembubaran PTN dan Pendirian, Perubahan, Pencabutan Izin PTS. Peraturan ini keluar pada 2016, namun baru berlaku efektif pada 2019, jadi usaha ‘penggabungan’ ini masih dalam tahap sosialisasi karena mungkin akan banyak prokontra didalamya

 

Proses Pendidikan

Adalah Proses, Lebih tepatnya dinamakan proses pendidikan akademik. Untuk strata satu (S1) dengan umur akademik kira - kira 4 tahun (min 144 sks : max 24 sks = 6 semester/3 th, ditambah 1-2 semester skripsi, ditambah lagi 1 semester perbaikan - perbaikan nilai), sedang strata dua (S2) 2 tahun (3 semester/1 setengah tahun perkuliahaan ditambah 1 semester thesis), tapi itu bisa dipercepat dengan status sebagai mahasiswa pindahan atau lanjutan namun dengan persyaratan yang lebih spesifik. Kalau tokh ada mahasiswa yang lebih pandai tetap harus mengikuti peraturan yang ada, terutama umur akademik, seperti waktu wisuda, tidak mungkin wisuda hanya untuk beberapa orang karena untuk mahasiswa unggulan tidak banyak, dan semua itu harus dilaporkan ke Kopertis – Dikti (Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta) persemester/tahun. Peraturan – peraturan tersebut dibuat untuk meminimalkan kecurangan yang mungkin akan terjadi

 

Masyarakat juga seharusnya sadar jangan mahu dibodohi dalam menuntut ilmu, tidak mungkin tahun ini kuliah, tahun depan bisa wisuda. Carilah kampus – kampus yang jelas dan sudah terakreditasi. Pemerintah dalam hal ini KemenRisetDikti sudah menjelaskan kampus – kampus yang bagus dan terakreditasi untuk menjalankan proses perkuliahan dengan baik. Lihatlah www.forlap.dikti.go.id carilah kampus – kampus yang statusnya aktif. Dan perlu disadari bahwa menuntut ilmu butuh waktu, tenaga dan biaya, tidak bisa instant, butuh proses.

 

"Tujuan utama pendidikan bukanlah pengetahuan, tetapi tindakan”. Herbert Spencer (1820–1903), filsuf sosial Inggris"

 

Sekarang ini marilah kita semua berharap bahwa tidak ada lagi kasus – kasus di bidang pendidikan tinggi yang bisa merugikan masyarakat, bangsa dan Negara

Komentar

Kode Acak

*Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka