Lika – liku DR. Terawan

http://www.idionline.org/wp-content/uploads/2016/06/IDI-Logo-Ikatan-Dokter-Indonesia-CDR-vektor.jpg

Sabhawana.info - dokter Spesialis Radiology untuk penyakit Stroke itu dikenal  dengan nama  Dr. Terawan, lahir di  Yogyakarta, 5 Agustus 1964, lulusan FK Universitas Gajah Mada, Spesialis di Universitas Airlangga dan S3 Univesrsitas Hasanudin Makasar,  seorang dokter namun juga dikenal sebagai  seorang anggota TNI aktif dengan pangkat terakhir Mayor Jendral dan menjabat Direktur RSPAD Gotot Subroto, Jakarta. Dengan nama lengkap Mayor Jendral DR. dr. Terawan Agus Hartanto. Sp. Rad, dan atas jasa dan keahliannya ia pernah mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Nararya tahun 2013 dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyuno di Istana Negara.

Seperti di langsir tribunnews.com,  beliau juga  mendapatkan dua rekor dari MURI sebagai penemu terapi cuci otak dan penerapan program Digital Substraction Angiogram (DSA) terbanyak.

Seperti juga dilansir tirto.id, Polemik mengenai penggunaan metode DSA ( pengujian metode Digital Subtraction Angiography (DSA) atau lebih dikenal dengan sebutan brainwash (cuci otak), yang digunakan oleh dokter Terawan Agus Putranto.)  mengemuka setelah Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia (IDI) merekomendasikan pemecatan dr Terawan sebagai anggota dan pencabutan rekomendasi izin praktiknya karena menilai dia telah melanggar kode etik dengan mengiklankan diri dan menjanjikan kesembuhan pada pasien.


Para ahli menilai metode DSA yang digunakan dokter Terawan bukanlah untuk pengobatan dan pencegahan stroke melainkan untuk diagnosis penyakit guna membantu mengetahui metode pengobatan yang tepat.

 

Alat Diagnosis Menjadi Alat Pengobatan

Kritik pedas disampaikan oleh Moh. Hasan Machfoed, profesor neurologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Ia mengatakan bahwa metode yang dikenalkan Terawan itu tak masuk akal. Salah satu alasannya, DSA bukanlah alat terapi penyembuhan, tetapi hanya alat untuk diagnosis penyakit. 


Dalam dunia kedokteran, DSA sudah lazim digunakan. Di bidang neurologi, DSA disebut cerebral angiography, digunakan untuk memeriksa gejala gangguan pembuluh darah otak (stroke iskemik). 


Irawan Yusuf, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, yang menjadi promotor disertasi Terawan, bahkan mengatakan fungsi brainwash bukan untuk penyembuhan, melainkan hanya meningkatkan aliran darah dalam otak pada stroke kronis, memperbaiki suplai darah ke jaringan tersumbat ke otot jantung.

Komentar

Kode Acak

*Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka