Kendalikan Kurs Rupiah agar Masyarakat Tenang

https://www.kominfo.go.id/content/detail/14333/kendalikan-kurs-rupiah-agar-masyarakat-tenang/0/berita

Jakarta, Kominfo - Pemerintah tetap membuat kebijakan yang berhati-hati dan terukur menyikapi situasi perekonomian nasional yang tengah bergejolak karena melemahnya nilai kurs rupiah atas dolar Amerika Serikat.

Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tentu tidak akan membuat masyarakat dan pasar resah. Sebab, Indonesia tetap membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas.  

Demikian rangkuman dari narasumber yang hadir dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk "Bersatu untuk Rupiah" di Ruang Serba Guna, Kemenkominfo, Jakarta, Senin (10/09/2018).

Turut hadir sebagai narasumber dalam FMB 9 kali ini Kepala Departemen Internasional Bank Indonesia Doddy Zulverdi, Staf Ahli Bidang Kebijakan Penerimaan Negara Kemenkeu Robert Leonard Marbun, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir, dan Juru Bicara Ojk Sekar Putih Djarot.

"Di tengah ketidakpastian ini tentu kita tidak mengeluarkan kebijakan yang membuat investor khawatir," ungkap Iskandar Simorangkir, DeDefisitputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir.

Hal tersebut menjawab pertanyaan, apakah kebijakan menyikapi depresiasi nilai tukar rupiah ini bakal memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.   Iskandar menambahkan, saat ini pemerintah membuat kebijakan mengurangi tekanan Defisit Transaksi Berjalan dengan mendorong aliran modal masuk (capital inflow), salah satunya melalui Bank Indonesia dengn memberikan fasilitas swap atau lindung nilai bagi para pelaku usaha baik eksportir maupun importir terkait kebutuhan mereka akan dolar AS. Selain itu, BI tengah menyiapkan mekanisme untuk mendorong konversi DHE (Dana Hasil Ekspor).

"Di luar itu tentu bagaimana menggerakan volume ekspor kita ke pasar-pasar baru," jelas Iskandar.

Pemerintah tentu tidak akan membuat resah investor dengan membuat ketidakpastian baru, misalnya dengan mengubah UU terkait fiskal atau sektor riil ekonomi.

Menurut Iskandar, Indonesia tengah membutuhkan aliran modal khususnya di pasar valas maka pemerintah dan BI terus menciptakan pendalaman pasar agar investor terpikat lagi masuk ke sini.

"Kita memastikan risiko nilai tukar dalam hal mengkonversikan (ke dolar) sudah terjaga. Kita tidak akan membuat kebijakan baru yang menimbulkan ketidakpastian.

Pihak Kemenko Perekonomian bersama kementerian terkait lain dan BI/OJK selalu membuat bauran kebijakan baik dari sisi fiskal, moneter dan menggerakan sektor riil agar berdampak signifikan bagi perekonomian nasional.

"Misalnya dalan aturan kenaikan PPh Impor Pasal 22 yang sebenarnya tidak mengubah dan tidak melangggar aturan WTO. Jadi misalnya importir membayar pajak 10 miliar, lalu kena pajak 10% artinya dia membayar 1 miliar, jika pph final 2,5 miliar, nilai itu 1 miliar bisa dikreditkan. Jadi dengan kata lain itu sebenarnya mereka membayar yang sama," ulas Iskandar.

Staf Ahli Menkeu Robert Leonard Marbun menambahkan, meski ada sejumlah kebijakan secara jangka pendek dan menengah untuk mengendalikan melemahkan nilai tukar rupiah, pertumbuhan ekonomi nasional tahun depan masih positif.

"Jika dilihat dari inflasi rata-rata tahun depan masih di kisaran 3,5%, konsumsi rumah tangga sekitar 4,1," jelasnya.

Satu hal,menurutnya, dari berbagai rating lembaga internasional dan Bank Dunia, ekonomi Indonesia masih bertumbuh sekitar 5,2%. Pertumbuhan ini masih ditopang dari industry pengolahan yang meningkat dari 4,3% menjadi 5,1% lalu 2019, jasa keuangan juga masih tumbuh begitu pula industri jasa dan logistik. Begitu pula industri asuransi. 

(sumber:https://www.kominfo.go.id/content/detail/14333/kendalikan-kurs-rupiah-agar-masyarakat-tenang/0/berita)

Komentar

Kode Acak

*Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka